Satu-satunya aksara lokal yang terdapat di daerah Sumatera Tengah adalah aksara incung yang terdapat di wilayah Alam Kerinci yang kini terdiri dari dua daerah administrasi, yakni Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi. Aksara incung mahakarya masa lampau yang tergolong ke dalam aksara kaganga. Aksara sejenis ini di Sumatera hanya ada di Bengkulu, Lampung dan daerah Sumatera Utara dipakai Suku Bangsa Batak. Aksara incung disimpulkan sebagai aksara Kerinci karena di wilayah ini terdapat naskah-naskah yang beraksara incung dan telah berumur ratusan tahun. (Iskandar & Deki,2017).

Menariknya naskah Undang-Undang Tanjung Tanah yang ditulis pada abad XIV masehi diklaim filolog Uli Kozog sebagai naskah Melayu tertua di dunia. Beberapa bagian dalam naskah itu ditulis dalam incung. Jadi dapat dipastikan aksara Incung telah digunakan masyarakat alam Kerinci sebelum abad XIV M. Terbentuknya aksara incung melalui pertalian sejarah dan kebudayaan yang telah berlangsung lama. Wilayah alam Kerinci sejak lama telah berhubungan dunia luar. Ada pendapat yang menyebutkan asal nama Kerinci berasal dari Bahasa Tamil (India) yang berarti daerah perbukitan atau pegunungan. Orang Tamil ditenggarai sejak awal abad Masehi telah mengenal baik wilayah Kerinci dan dikenal sebagai daerah penghasil kemenyan.

Dalam buku Khazanah Aksara Incung yang ditulis Iskandar Zakaria dan Deki Syaputra disebutkan ada dua pendapat asal usul aksara incung. Pertama, asal usul embrio aksara incuing berasal dari pembuahan kebudayaan keberaksaraan India dan Cina. Mengutip pendapat Harimurti Kridalaksana, secara tidak langsung menyebut aksara incung berakar dari India bagian selatan. Dapat disimpulkan aksara Kerinci paling besar dipengaruhi  oleh bangsa Tamil dari India bagian selatan.

Kedua, aksara incung terkait hubungan politik dan kebudayaan antara Kerinci dengan Jambi disebelah timur dan Minangkabau di sebelah barat dan utara. Alam Kerinci menjadi daerah pertemuan para raja. Keamanan di perbatasan ketiga wilayah awalnya sangat rawan sehingga kedua wilayah menandatangani perjanjian yang terkenal di daerah Bukit Sitinjau Laut. Mengingat pentingnya hasil pertemuan atau musyawarah itu, perlu diabadikan kesepakatannya dalam bentuk tulisan  yang aksaranya khas Kerinci. wadah tempat menulisnya di tanduk kerbau. Inilah yang diyakini jadi dasar pada masa lampau, masyarakat Alam Kerinci memiliki aksara sendiri dalam menulis.

Keunikan aksara incung dibandingkan dengan aksara Arab Melayu adalah incung minim sekali ditulis pada kertas daluwang ataupun sejenis kertas lainnya. Namun, aksara ini banyak ditulis pada alas yang sesuai dengan konteksi naskah tersebut. Misalnya tanduk kerbau untuk naskah perjanjian dan bambu untuk ratap tangis. Meski demikian juga terdapat naskah yang beralaskan kertas dawulang, selain naskah Undang-Undang Tanjung Tanah. Hanya ada dua naskah beraksara incung yang ditulis di atas kertas dawulang, selebihnya di tanduk kerbau, bambu, tulang dan gading gajah.

Sampai tahun 1825 M, Orang Kerinci masih menggunakan aksara incung dalam tradisi penulisan naskah. Barulah awal abad XX, aksara incung menghilang. Penyebabnya, Belanda melarang penggunaan aksara incung ini. Belanda menilai aksara incung bisa jadi alat pemersatu sehingga sangat merugikan dalam menguasai alam Kerinci. Selain itu, Belanda juga mengembangkan aksara latin yang memudahkannya dalam menguasai daerah jajahan.

Di wilayah alam Kerinci terdapat 134 naskah yang menggunakan aksara incung. Naskah itu tersebar di 10 wilayah mendapo yang masuk dalam lingkup Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Di Mendapo Limo Dusun 14 naskah, Mendapo Rawang 26 naskah, Mendapo Depati Tujuh 16 naskah, Mendapo Kemantan 11 naskah, Mendapo Hiang 9 naskah, Mendapo Seleman 1 naskah, Mendapo Keliling Danau 1 naskah, Mendapo Tanah Kampung 8 naskah, dan Mendapo Penawar 3 naskah.

Batik Incung

Aksara incung yang lama tenggelam dibangkitkan lagi dengan berbagai cara. Selain pengajaran di sekolah-sekolah melalui pelajaran muatan lokal (mulok), aksara incung kini makin popular karena dipakai jadi motif batik baik itu di Kota Sungai Penuh maupun Kabupaten Kerinci.

Tahun 1990-an usaha batik incung menjamur di Kerinci namun kemudian menghilang. Barulah beberapa tahun belakangan muncul lagi pelaku usaha dibidang batik. Keunikan batik Kerinci dan Sungai Penuh ini adalah disetiap motif ada tulisan aksara incung. Motif batik Kerinci bersumber dari bentuk geometris, bentuk alam dan aksara Kerinci. Nama-nama motif  adalah : Incung tulisan (aksara) Kerinci, biloik (bilik), pucuk paku dan kacang belimbing (ukiran mesjid agung pondok tinggi), jangki, jangki terawang, lapek terawang (tikar terawang),  tampuk manggis (tampuk buah manggis),  cerano,  keluk paku (relung paku) belah ketupat (ukiran rumah adat), bunga raflesia, daun sirih, ketupat, selampit simpei (jalinan ekor simpei), roda pedati, bagantoi dan lapik (tikar). Di antara nama-nama motif tersebut patah tumbuh hilang berganti (patah tumboh ilang bagantoi.

Motif yang menjadi ciri khas batik Kerinci yaitu motif Incung yang merupakan tulisan (aksara) Kerinci. Warna batik Kerinci pada umumnya berwarna gelap seperti warna merah tua dan hitam, bahan pewarna yang digunakan adalah bahan warna alam dan bahan warna sintetis. Adapun teknik pembuatan batik yang digunakan di sanggar-sanggar dan kelompok usaha batik Kerinci adalah teknik batik tulis dan teknik batik cap dengan pewarnaan celup dan colet.

Pemko Sungai Penuh yang lebih fokus dalam pengembangan batik ini. Dalam upaya mengembangkan pariwisata daerah dan ekonomi kreatif, awal tahun 2013  Walikota Sungai Penuh dan Dekranasda/Tim Penggerak PKK  Kota Sungai Penuh kembali mengangkat batik Kota Sungai Penuh. Untuk itu, dikeluarkanlah Surat Edaran Walikota Sungai Penuh, Nomor: 510/71/III.2/koperindag-ESDM/2013 tentang penggunaan produk batik motif khas Sungai Penuh.

Dalam suerat edaran itu dibuat sejumlah kebijakan. Menggunakan pakaian batik motif khas Kota Sungai Penuh setiap hari kamis bagi pejabat structural. Pengadaan dan penjualan batik motif khas Kota Sungai Penuh dapat penghubungi pengrajin industri kecil batik Kota Sungai Penuh (nama dan alamat terlampir). Turut mempromosikan pemakaian pakaian batik khas Kota Sungai Penuh dilingkungan SKPD, UPTD dan masyarakat sekitarnya, seperti sekolah dan organisasi masyarakat.

Pada industri batik Kerinci di Kota Sungai Penuh terdiri dari tiga teknik pembuatan batik yaitu tenik batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap. Bahan pembuatan batik Kerinci antara lain: Pertama, kain yang digunakan yaitu kain katun dengan merek mori primissima dan prima, shantung, sutera dan semi sutera. Kedua, lilin (malam) yang digunakan adalah carik, tembok, biron dan lilin yang didaur ulang. Zat warna yang digunakan terdiri dari zat warna alam yaitu ekstrak daun jambu biji, kulit jengkol, daun mangga, isi kunyit, kulit bawang merah dan rumput indigo. Zat warna sintetik yaitu napthol, indigosol, rapite, procion dan ramazol. Kemudian, alat yang digunakan yakni pensil, sentimeter, gunting, kertas minyak, canting klowong, canting cap, wajan, kompor minyak, canting tembok, kuas, kardus, ender, meja cap, sarung tangan kain, kain bekas, katun bad, timbangan, gelas aqua, sendok plastik, sendok besi, mangkuk, ember, gayung, sarung tangan plastik, panci, kenceng, sedok kayu, ember dan tungku kayu.

Beberapa permasalahan dalam industri batik Kerinci belum dikenal baik bahkan masyarakat Kerinci sendiribelum mengetahui keberadaan batik Kerinci. Peminat batik ini hanyalah sebagian masyarakat seperti instansi pemerintah atau pejabat-pejabat yang diwajibkan pada hari tertentu memakai pakaian batik Kerinci ditempat kerjanya.Disamping itu, kualitas batik Kerinci disebagian industri juga terbilang masih rendah, seperti pencelupan yang kurang baik menyebabkan batik terlihat lusuh dan mudah sekali luntur serta zat warna alam yang digunakan juga belum bervariasi.  Mengamati motif, terlihat bahwa hasil klowong pada batik tulis masih kaku dan setelah dilorot motifnyapun tampak retak-retak, kemudian motif-motif yang dihasilkan masih kurang menarik. Batik Kerinci ini tidak dapat diproduksi secara masal. Hal ini disebabkan karena beberapa kendala, yakni keterbatasan terhadap dana para pelaku usaha, peralatan dan kesulitan bahan baku dan tenaga pengrajin.

Sumber:

Iskandar Zakaria & Deki Syaputra.2017. Khazanah Aksara Incung. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sungai Penuh.

Elvi Hardanti. 2014. Studi Batik Kerinci di Sungai Penuh. Skripsi Sarjana Program Studi Pendidikan Kesejahteraan keluarga, Universitas Negeri Padang.