Seperti daerah-daerah lain di Nusantara,  Kota Sungai Penuh yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari suku Kerinci, memiliki arsitektur bangunan rumah tempat tinggal yang unik dan spesifik. Rumah rumah tradisional suku Kerinci yang mendiami lembah alam Kerinci dibuat berlarik, antara satu bangunan rumah dengan bangunan rumah lainnya saling berhubungan, saling bersambung seperti rangkaian gerbong yang memanjang dari arah timur dan barat, mengikuti garis edar matahari. Konstruksi bangunan cukup unik dan rumit karena sistim sambungannya tidak menggunakan besi-paku, tetapi menggunakan pasak dan sistim sambung silang berkait.

Konsep Landscape rumah berlarik dibagi berdasarkan konsep ruang makro, ruang meso, dan ruang mikro. Pola rumah berlarik berjejer memanjang dari arah timur ke barat, sambung-menyambung antara satu rumah dengan rumah yang bersebelahan hingga membentuk sebuah larik (deretan). Rumah berlarik di  enam luhah Sungai Penuh merupakan salah satu kawasan rumah tradisional berlarik yang terdapat di Kota Sungai Penuh. Pada masa lalu, umumnya di setiap pemukiman / neghoi atau duseung di alam Kerinci terdapat rumah berlarik panjang.

Rumah ini menerapkan konsep sumbu vertikal (nilai ketuhanan) dan sumbu horisontal (nilai kemanusiaan). Sumbu vertikal terlihat dari pembagian ruang menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah sebagai kandang ternak, bagian tengah untuk tempat manusia tinggal, dan bagian atas untuk menyimpan benda-benda pusaka. Sedangkan sumbu horisontal dapat dilihat dari pembagian ruang dalam rumah yang tidak bersekat dan saling menyatu antara satu rumah dengan rumah yang saling bersebelahan. Hal ini mengandung nilai kemanusiaan yang tinggi.

Pekarangan rumah berlarik yang dibangun di kawasan “Parit Sudut Empat” umumnya dimanfaatkan untuk kegiatan menjemur hasil pertanian seperti padi, kopi, dan kayu manis. Pada acara Kenduri Sko, halaman rumah berlarik dimanfaatkan untuk berbagai aktifitas pelaksanaan kenduri Sko, dan pada hari-hari besar keagamaan biasanya pekarangan  dimanfaatkan untuk kegiatan”Melemang” atau memasak Juadah

Umoh laheik jajou (berlarik berjajar) dibangun sambung-menyambung satu dengan yang lainnya sehingga menyerupai gerbong kereta api yang sangat panjang, sepanjang larik atau lorong dusun, dibangun di sisi kiri dan kanan sepanjang jalan. Pada konstruksi rumah tradisional suku Kerinci daerah Kota Sungai Penuh, tidak terlihat menggunakan fondasi permanen, hanya menggunakan batu ”Sendai” yakni  memanfaatkan batu alam yang permukaannya telah dipipihkan. Batu sendai ini merupakan penopang  tiang rumah berlarik. Pembangunan rumah berlarik tidak menggunakan  besi -paku, hanya mengandalkan pasak dan ikatan tambang ijuk.

Di masa lalu, atap rumah berlarik berasal dari  ijuk yang dijalin, sedangkan dinding rumah berlarik memanfaatkan pelupuh (bambu yang disamak) atau kelukup (sejenis kulit kayu) dan lantainya  papan yang ditarah dengan beliung. Material-material itu tidaklah memberatkan rumah. Umoh laheik ini merupakan tempat tinggal tumbi (keluarga besar), dengan sistem sikat atau sekat-sekat seperti rumah bedeng. Setiap keluarga menempati satu “sikat” yang terdiri dari kamar, ruang depan, ruang belakang, selasar, dan dapur.

Setiap sikat memiliki dua pintu dan dua jendela, yakni bagian depan dan belakang. Material pintu  adalah papan tebal di tarah beliung. Antara sekat sikat terdapat pintu kecil sebagai penghubung. Jendela yang disebut “singap” sekaligus merupakan ventilasi angin dibuat tidak terlalu lebar, tanpa penutup seperti layaknya rumah modern saat sekarang, hanya dibatasi jeruji berukir.

Sementara bagian bawah yang disebut “ umou” sering hanya sebagai gudang tempat menyimpan perkakas pertanian, atau terkadang juga menjadi kandang ternak seperti ayam, itik, kambing, dan domba. Tak jarang juga dibiarkan kosong melompong, menjadi arena tempat bermain anak-anak. Di bagian atas loteng terdapat bumbungan yang disebut “parra”. Atap di dekat parra itu biasanya dibuat singap kecil yang  bisa  buka tutup, disebut “pintu ahai” atau pintu hari atau pintu matahari. Di situlah keluarga bersangkutan sering menyimpan “sko” (benda-benda pusaka) keluarga. Di luar rumah, tepatnya di depan pintu, biasanya terdapat beranda panggung kecil yang disebut “palasa”, yang langsung terhubung dengan jenjang atau tangga. Di situ pemilik rumah sering berangin-angin sepulang kerja. Bahkan, tak jarang para tamu pria sering dijamu duduk di atas bangku sambil minum sebuk kawo dan mengisap rokok lintingan daun  enau. Bagian halaman depan rumah sering dipenuhi oleh tumpukan batu sungai sebagai teras, sehingga rumah terkesan tidak berpekarangan.

Pekarangan rumah keluarga tersebut sebenarnya berada di halaman belakang yang biasanya sangat luas dan panjang. Model dan konstruksi arsitektur rumah tradisional Kerinci mencerminkan betapa masyarakat sangat mengutamakan semangat kekerabatan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupannya sebagai falsafah pegangan hidup manusia sebagai makhluk sosial.


Just like other areas in Indonesia, Sungai Penuh City, inseparable from the Kerinci’s tribe, has unique and specific home building architecture. Each house building is connected to each other like a series of carriages, lengthwise from east to the west, along with the orbit of the sun. Instead using nail iron, the building construction uses bolt and hooked cross link system.

The concept of this row house is macro, meso, and micro rooms. The row pattern is lengthwise from the east to the west, each house is connected to the next house, making a larik (row). The row house at luhah Sungai Penuh is one of the traditional row house areas in Sungai Penuh City. In the past, usually in every settlement / neghoi or duseung in Kerinci there is a long row house.

This type of house uses vertical axis concept (the God value) and horizontal axis (humanity value). The axis concept appears in the division of rooms into three parts, low part as a shed, middle part as a human place, and upper part is to keep heirlooms. The horizontal axis appears on room division that does not have partition and each house is connected to the next house. It contains highly humanity value.

The yard of the row house built in “Parit Sudut Empat” area usually is used for drying agriculture crops, such as paddy, coffee, and cinnamon. During Kenduri Sko, the yard is used for the preparation of this event, also during religious holidays the yard is used for ”Melemang” or cooking Juadah.

Umoh laheik jajou (in a row) is built connected to each other, resembling a very long wagon train. It is built along the village road, on the left and right of the road. The construction of Kerinci traditional house does not use permanent foundation, only using ”Sendai” stones, flat-made natural stones as the its pole foundation. This type of house does not use nail iron, but bolt and palm rope knots. In the past, the roof is made from weaving palm, and the wall is made from pelupuh (tan bamboo) or kelukup (kind of tree bark), and the floor is trimmed with pickaxe.

Those material do not weigh the house. Umoh laheik is a place for tumbi (big family), with partition system as a raised house. Each family owns one “sikat”, containing room, front room, back room, hallway and kitchen.
Every sikat has two doors and two windows, on the front and on the back. The door’s material is a thick board in tarah beliung. Between the partition there is a small door for a connector. Window, called “singap”, is an air ventilation with normal size without cover as in modern house, just a carved bars.

Meanwhile, the low part is called “ umou”, mostly is used as a warehouse to keep agricultural tools, or shed for chicken, duck, goat, and sheep. Sometimes it is just an empty area, used by the children to play together. On the upper part, there is a roof called “parra”. Not far from parra there is a small door called “pintu ahai”, it is a day door or sun door. That is where the family used to keep family’s “sko” (heirloom). Outside the house, right in front of the door, there is a small veranda called “palasa”, connected to the stairs. This is where the owner of the house often sits down relaxing after going home from work. The male guests often are welcome to sit on the bench, drinking sebuk kawo and smoking palm leave roll. There are often many river stones at the front of the house, used as veranda, so it looks like the house does not have yard.

The yard actually is in the back of the house, usually very wide and long. The architecture model and construction of Kerinci’s traditional house reflects that how the people much more prioritise on the spirit of family, togetherness, and mutual cooperation in their life, as the role model philosophy for social being.